Blog

Sharing Touring #1 : Berkunjung ke Entikong Baru dan Lanjut ke Kuching

Berkunjung ke Entikong Baru  dan Lanjut ke Kuching
Cuplikan perjalanan 25-29 Maret 2017

Ditulis oleh : Irwan Reza Iskandar – ICON 074

Prolog:

Tulisan ini sebetulnya sudah kami buat tidak lama sepulang dari Entikong, namun baru kami upload saat ini.

Sebetulnya tidak pernah kami mempunyai rencana untuk jalan jalan ke Kalimantan, khususnya ke Pontianak, dan lebih spesifik nya ke Entikong, mengingat berita berita yang ada  di media massa, bahwa jalan darat di Kalimantan menuju perbatasan Malaysia amat sangat sangat sangat buruk, tidak hanya menuju Entikong, tapi hampir seluruh infrastuktur jalan raya di Kalimantan sangat buruk. Namun sejak presiden Jokowi sering kali berkunjung ke Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat untuk memeriksa langsung progress pembangunan di Kalbar, dan kemudian  Presiden  Jokowi meresmikan jembatan terpanjang di Kalimantan, Jembatan Pak Kasih Tayan,  meresmikan PLBN Entikong yang baru, kalau boleh kami sebut sebagai The New Entikong, terbersit keinginan kami untuk melihat Entikong dan Jembatan Pak Kasih Tayan, lagi pula kami belum pernah bepergian ke Pontianak, Bahkan Pulau Kalimantan, sehingga kami mulai menyusun rencana untuk ke Pontianak kemudian menuju  Entikong di perbatasan dan melanjutkan  perjalanan ke Negeri Jiran, ke Kota Kuching, di Negara Bagian Serawak,  Kalimantan – Borneo sisi Malaysia.

Penyusunan rencana awal mulailah kami browsing mencari tahu melalui media internet, bagaimana kondisi jalan menuju Entikong, karena sekitar tahun 2013, Ibu kami pernah ke Kuching melalui jalan darat dan kondisi jalan nya amat sangat buruk, sehingga waktu kembali ke Jakarta, akhirnya memutuskan untuk pulang melalui jalur udara, walaupun harus ke Kuala Lumpur terlebih dahulu untuk menuju Jakarta. Dari browsing di Inernet,  informasi yang kami dapat, banyak yang sudah melakukan perjalanan dari Kalimantan Indonesia ke Kalimantan sisi Malaysia bahkan lanjut ke Brunei dan Sabah menggunakan kendaraan umum; Bus Lintas  Antar Negara, kendaraan pribadi, bahkan sepeda motor.

Akhirnya kami merencanakan untuk membawa kendaraan pribadi dari Jakarta untuk melintas ke Malaysia dan Brunei, namun masih banyak pertanyaan bagaimana kondisi jalan darat dari Pontianak menuju Entikong, kami berusaha untuk mencari informasi sedetail-detailnya, karena kendaraan pribadi yang akan kami bawa adalah jenis sedan, yang ground clearance nya cukup rendah jika dibandingkan dengan Toyota Innova atau Avanza. Kami mencoba menyiasati untuk memperoleh informasi, dengan telpon ke beberapa penyedia jasa rental mobil di Pontianak yang kami dapat dari hasil browing di internet berdasarkan saran dari mbah Gugel, Kami utarakan keinginan kami untuk menyewa mobil sedan ke Kuching dari Pontianak, namun yang kami dapatkan tidak ada satupun penyedia jasa rental mobil yang bersedia, dengan alasan jalan menuju ke Entikong ada ruas jalan yang sangat jelek, sehingga mereka tidak menyanggupi untuk menyediakan kendaraan jenis sedan, menurut mereka minimal adalah Toyota Avanza kalau Toyota Innova pasti bisa untuk melintas di ruas jalan yang jelek tersebut, hal ini kira kira kami tanyakan di bulan Oktober – November 2016. Sehingga akhirnya rencana untuk membawa mobil dari Jakarta kami batalkan mengingat hasil informasi yang diberikan oleh para penyedia rental mobil di Pontianak yang kami hubungi, sekitar 4 atau 5 jasa rental yang kami hubungi semua memberi jawaban yang sama. Mereka semua memberi informasi bahwa ruas jalan antara Simpang Ampar menuju Sosok, rusak parah, jalan sepanjang 40 km tersebut tidak layak sebagai jalan raya, dan dari situs YouTube, kami mendapatkan beberapa rekaman video kondisi jalan dari simpang Ampar- Batang Tarang- Simpang sosok yang sangat menyedihkan, ada truck terguling karena masuk lubang besar, mobil patas as, nyangkut di lubang besar dan lain lain.

Namun ada beberapa informasi lain yang kami dapatkan, bahwa jalan antara Simpang Ampar – Batang Tarang- Simpang Sosok tidaklah separah yang telah disebutkan, bahkan beberapa menyebutkan bahwa mereka barusan lewat beberapa minggu lalu dan jalan nya sudah sangat layak dan bisa dilewati tanpa kendala, karena sekarang dalam proses perbaikan, dan masih berlanjut, beberapa ruas jalan yang dahulu rusak parah, bahkan sudah mulus dan dari 40km jalan tersebut kira kira tinggal 15 km saja yang masih kurang baik, namun sedang dalam proses perbaikan, pekerjaan tersebut sedang berlangsung dan dalam tahap penyelesaian. Kemudian kami mendapatkan informasi dari situs YouTube, sekitar pertengahan bulan Desember 2016 yang baru saja tayang seminggu sebelum kami menemukan video ini.

 https://www.youtube.com/watch?v=25gYltD8SEw&t=34s

Setelah melihat tayangan video tersebut akhirnya kami putuskan untuk melakukan perjalanan   Pontianak – Entikong – Kuching pp dengan jalan darat, dan kami putuskan untuk menyewa mobil saja dari Pontianak, kami beranggapan bahwa kami sedang melakukan survey jalan sebelum memutuskan  dan merencanakan untuk perjalan trans Kalimantan berikutnya ditahun 2018  ke Kota Kinabalu lanjut ke Tip Of Borneo. Kami juga sempat melontarkan beberapa pertanyaan kepada pemilik video untuk mendapatkan informasi yang lebih detail tentang jalan Antara Simpang Ampar sampai dengan Simpang Sosok, dan jawaban nya sangat membesarkan hati kami, bahwa jalan sudah baik hanya tinggal sedikit saja yang masih dalam proses perbaikan dan akan selesai dalam waktu yang tidak lama.

Dari informasi terkahir yang kami dapat, kami langsung membuka Kalender dan mencari “harpitnas”, untuk pergi mewujudkan rencana kami, ada dua pilihan, di 22 April sd 26 April atau di 25 Maret sd 29 Maret, masing masing ada hari libur, akhir nya pilihan kami jatuhkan di 25 maret 2017 sd 29 maret 2017, karena kami sudah “ngebet” ingin melihat The New Entikong yang diresmikan oleh Presiden Jokowi dan juga jembatan Pak Kasih Tayan dan merasakan pengalaman membawa mobil lintas Negara melalui jalan darat untuk pertama kali nya.

Itinerary pun kami susun, dan mencari tiket murah Jakarta –  Pontianak PP. Kami pun mendapat tiket yang cukup affordable, sebesar kurang lebih Rp 2,4 juta PP untuk 2 orang,  menggunakan maskapai Nasional yang terbesar dan terkenal, Lion Air, kami akan berangkat dengan Lion Air flight number JT684 pukul 12:50 tgl 25 Maret 2017 dari Cengkareng dan kembali 29 Maret dengan LionAir JT 717 jam 20:00 dari Pontianak.

Mengenai rental mobil, kami akhir nya memilih CV. Goodman 88, http://rentalpontianak.com/  yang membolehkan kami menyewa mobil dengan system lepas kunci dari Pontianak ke Kuching,  dengan harga yang rasional sesuai dengan budget kami, beberapa rental lain  mewajibkan menggunakan pengemudi dari mereka jika mobil rental dibawa ke Kuching- Malaysia, dan harga rental nya pun otomatis lebih tinggi, karena harus menanggung biaya pengemudi beserta akomodasi termasuk makan selama jangka waktu sewa.

Pemesanan tiket Pesawat ke Pontianak pergi –pulang  dan rental mobil tuntas  di Akhir Januari 2017, dua bulan sebelum perjalanan yang kami rencanakan, serasa waktu yang lama sekali menanti dua bulan sampai dengan hari H jadwal keberangkatan kami ke Pontianak 25 Maret 2017. Hari demi hari, siang berganti malam, setiap hari kami mencoret “tally” di kalender dan akhirnya hari yang di tunggu tunggu akhir tiba juga, kami sangat antusias sekali untuk bepergian, biasanya kami biasa-biasa saja jika ingin bepergian, persiapan untuk pergi sudah kami siapan seminggu sebelumnya, item list sudah kami susun untuk mencegah jika ada item yang tertinggal seperti: camera, tripod, dan dashcam kesayangan kami harus ada di dalam daftar “harus dibawa” dan laptop untuk mentransfer hasil recording dashcam supaya semua perjalanan dengan mobil ke Kuching dari Pontianak bisa direkam semua dan tidak ter overwrite. Kami bawa satu dashcam saja, sebelumnya terpikir untuk membawa dua dashcam yang akan kami pasang di kaca belakang, tapi kami batalkan, akhirnya setelah pulang dari Pontianak, kami menyesal tidak bawa dua dashcam. Oke gapapa deh, next adventure kami akan bawa dua dashcam.

Day 1:  Sabtu 25 Maret 2017

Keberangkatan menuju Pontianak

Hari yang dinanti akhirnya tiba, Sabtu 25 Maret 2017, Kami bangun pagi,  sarapan dulu, seperti biasa kami sarapan Bakmi Favorit di dekat tempat tinggal kami di Kelapa Gading.  Jam 10:30, kami berangkat  menuju Terminal  1A Soekarno Hatta, Jakarta Pontianak by Lion Air JT-684 jam 12:50 dari CGK (Cengkareng)  dan mendarat  PNK (Pontianak) 14:20.

Setiba di Airport,  kami tinggal melaporkan bagasi , karena kami sudah melakukan web check in 24 jam sebelumnya,  setelah selesai semua proses , kami sempatkan makan siang dahulu di airport, pada jam 12:15  kami melakukan proses masuk ke lounge, Tripod yang kami bawa di dalam cabin ternyata tidak lolos oleh petugas security, alhasil kami harus kembali ke counter bagasi, yang alamak, antriannya  luar biasa panjang, tetapi kami dibantu oleh petugas sehingga tidak perlu antri, karena mengingat  sebentar lagi harus boarding, tripod di beri label fragile, kami diberi kupon bagasi, dan kami lanjut ke lounge, sampai di lounge ternyata sudah ada pengumuman penumpang untuk boarding.

Boarding berlangsung lancar, jam 12:30 kami dan istri sudah berada di pesawat, kami memberitahukan ke Jasa rental kami di Pontianak, bahwa kami sudah ada di pesawat, dan sepertinya pesawat kami akan tiba lebih awal dari jadwal tiba di Pontianak yang 14:20. Pesawat Lion Air Boeing 737-800 yang kami tumpangi, mengudara tepat waktu, dan mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Supadio Pontianak  jam 14:03, 17 menit lebih awal. Jam 14:30, kami sudah di arrival hall menunggu bagasi keluar. Setelah bagasi keluar, kami menghubungi jasa rental, karena kami tidak menemukan penjemput kami di pintu keluar, Sebelumnya kami sudah mendapat pesan whatsapp nomor telpon pengemudi yang akan mengantar mobil.

Kami mendapat berita bahwa pengantar mobil terlambat, kami diminta menunggu 15 menit, supir masih diperjalanan,  setelah 15 menit kami menunggu di cuaca yang sangat panas dan lembab, pengemudi belum datang juga, sehingga kami telpon lagi, dan Supir berkata, 10menit lagi, sudah dekat bandara,

Akhirnya mobil rental datang, sebuah Toyota Innova warna Silver, tahun 2006, seperti yang tertulis di STNK nya, dengan play nomor KB 1315 SQ , berikut surat Kuasa kepada kami untuk membawa mobil tersebut ke Malaysia, dan juga ada lampiran surat dari Jabatan Pengangkutan Jalan  (JPJ) Malaysia, tentang Laporan Pemeriksaan Kenderaan ersebut  terakhir masuk ke Malaysia bertanggal 04 Februari 2017.

Odometer Mobil menunjukkan angka 252.373, trip meter A dan B pun kami Reset, ke Nol, hmm ini mobil sudah lumayan banyak juga KM nya, kondisi mobil tidak terlalu mulus, dalam nya sedikit kotor, tetapi masih dalam batas wajar. Meter bensin menunjukkan sedkit diatas E.

Jam menunjukkan angka 16:30, pada saat kami mulai meninggalkan bandara, 2 jam kami di Bandara, ini satu jam delay dari itinerary awal, ya kami harus menunggu mobil datang selama 1 jam  di airport, sedikit mengecewakan, karena harus menunggu di cuaca yang sangat panas di Airport Supadio Pontianak.

Sebelum kami start dari Airport Supadio, kami pasang dashcam yang kami bawa dari Jakarta, Daschcam merk Xiaomi Yi car VDR dashcam, power kami masukkan ke slot lighter, dan… ternyata tidak ada power di lighter, ternyata soket lighter tidak bekerja, terpaksa kami menggunakan powerbank, kami agak cemas, power bank ini apakah sanggup bertahan sebagai catu daya dashcam kami sepanjang perjalanan dari Pontianak sampai Kuching, setelah dashcam on, kami memulai perjalanan kami di bumi Khatulistiwa ini. Hasil rekaman dashcam ini telah kami publikasi kan di channel youtube kami, silahkan di simak melalui tautan dibawah ini salah satu nya, Silahkan klik playlist yang kami buat untuk melihat urutan perjalanan secara utuh.

https://www.youtube.com/watch?v=f3R35A8e5Qs&list=PL-7FyWjTC6ZJnMmsZW1lo6MTK_x78uRO6

https://www.youtube.com/watch?v=Zl0imx15JPA&list=PL-7FyWjTC6ZJnMmsZW1lo6MTK_x78uRO6&index=4

Kami  check in ke Hotel Orchard A Yani Pontianak yang kami pesan sebelumnya melalui traveloka, Kami berisitrahat sebentar, mandi dan kemudian kami berkeliling kota Pontianak sebentar, sebelum kami makan malam di Abang Kepiting, rumah makan seafood yang konon sangat terkenal di Pontianak.

Kota Pontianak, tidak terlalu besar, lalu lintas juga tidak sepadat di Jakarta, traffic kecepatan tidak terlalu tinggi, sekitar jam 18:30, kami sampai di Abang Kepiting, selama berkendara kami di bantu oleh GPS nya Mbah Gugel Maps, yang memberi petunjuk arah.

Di abang kepiting, kami pesan kepiting tentu nya , komentar kami, leezzaatt, makan malam yang lumayan mahal, hampir Rp300rb untuk makan berdua, dengan menu Kepiting masak Saus Telor asin dan kepiting saus padang + telur ikan goreng.

Selesai makan malam  yang lezat, kami ke  Ayani  Mall untuk beli perlengkapan logistic perjalanan ke Kuching.

Ayani Mall ini konon mall paling megah di kota Pontianak, cari parkir tidak sulit, tetapi memang antrian nya agak lama, dan turn-over parkir sepertinya cukup besar, sehingga  banyak mobil yang keluar, dan yang masuk pun cukup banyak, sepertinya karakteristik pengunjungnya tidak berlama lama di dalam mall.

Hotel Kami letaknya bersebelahan dengan Ayani Mall, memang kami pilih hotel tersebut agar kami tidak perlu jauh jauh jika ke Mall untuk beli perlengkapan logistic perjalanan, sehingga bisa menghemat stamina karena kami sebagai solo driver dalam perjalanan ini. Kami beli roti untuk bekal perjalanan,  dan air minum dalam jumlah yang cukup sampai tanggal 29 Maret nanti  dan beberapa camilan snack kesukaan istri, kami sendiri tidak suka camilan. Kenyang bikin ngantuk jika sedang mengemudi.

Day 2 :  Minggu 26 Maret 2017

Perjalanan darat dari Pontianak – Entikong – Kuching

Inilah sebetulnya hari yang sangat kami tunggu tunggu, kami sangat antusias untuk mecoba jalan Trans Kalimantan, Rute hari ini menurut itinerary yang sudah kami susun adalah Pontianak – Simpang Ampar – Jembatan Pak Kasih Tayan- Simpang Ampar – Entikong – Tebedu – Kuching = ± 375 Km  menurut data dari google Maps.

Dari data yang kami dapat, perjalanan menuju Entikong kondisi jalan tidak kondusif antara Simpang Ampar sampai dengan Simpang sosok, sejauh kurang lebih ± 40km, namun sepanjang 40 km tersebut, dari data terakhir yang kami dapat, hanya tinggal 15km saja yang kondisi jalan kurang baik.

Pagi pagi, alarm Handphone kami sudah bernyanyi riang pada pukul 5:30, Pagi Hari jam  jam 6:00  kami sarapan di Hotel. Barang-barang sudah kami kemas pada malam hari nya, dan minuman sudah kami masukkan ke dalam lemari es mini yang tersedia di Hotel, waktu sarapan kami membawa dua botol air meniral kosong ukuran kecil ke restoran, botol ini kami isi jus orange untuk bekal perjalanan dari Pontianak – Kuching,  Hotel Orchardz Ayani, ini ternyata menu sarapannya,  taste nya sangat baik, kami manfaatkan sarapan pagi ini sebaik2 nya, alias sarapan sampai  kenyang, karena kami tidak mempunyai data dimana kami bisa makan siang yang di rekomendasikan di route perjalanan Pontianak  sampai dengan Entikong,  setelah sarapan,  kami kembali ke kamar dan check out, singkat cerita jam 7:10 pagi kami telah siap untuk berangkat menuju Kuching.

Dashcam yang semalam kali lepas untuk di download data ke laptop, sudah terpasang dengan baik, Dashcam ini punya kemampuan rekaman berdurasi sekitar 6½ jam sehingga cukup untuk perjalanan dari Pontianak sd Kuching, namun nanti di entikong, kami akan memindahkan rekaman perjalanan tersebut ke laptop supaya tidak ada data yang ter overwrite.

Hal lain, adalah trip meter B kami reset ke Nol, sedangkan Trip Meter A kami biarkan, sebagai  trip meter total perjalanan,  Odometer  menunjukkan angka 252.403 dan Trip meter A  menunjukkan angka 29.7 di depan Hotel, artinya kemarin kami sudah berjalan hampir 30km di Pontianak sejak dari Airport Supadio, Perjalanan melalui jalan raya trans Kalimantan ke arah Simpang Ampar, berjarak sekitar 102 Km (±2jam) menurut mbah Gugel Maps dari Hotel, Waktu kami berangkat dari Hotel, kami melihat banyak mobil lalu lalang di depan hotel, kami berfikir, pasti jalan utama, Jalan A.Yani di tutup, ternyata  perkiraan kami adalah benar, hari itu ada Car Free Day, Alhasil kami harus memutar, mencari jalan lain untuk ke Tayan. Acara penutupan jalan ini membuat perjalanan kami sedkit delay sekitar 30menit untuk mencapai jalan trans Kalimantan menuju Entikong, tetapi karena lalu lintas tidak padat, perjalanan melalui jalur alternative ini cukup lancar, Dari Pontianak kami menuju Simpang Ampar, sebuah simpang tiga, yang jika belok ke kanan menuju Kalimantan Tengah, dan jika belok ke kiri menuju Sosok – Entikong – Malaysia.

Jalan Raya dari Pontianak sampai Simpang Ampar, kondisi jalan  menurut kami adalah bagus, ada sedikit lubang di sana sini, namun tidak banyak,  ini harus nya menjadi perhatian pemerintah untuk menjaga kondisi jalan tersebut tetap prima sebelum lubang-lubang kecil bersebut  berubah menjadi besar dan menghancurkan jalan yang mulus tersebut.

Jam 9:20 pagi, akhirnya kami sampai di simpang Ampar, trip meter B 106,3 km,  sesuai dengan data yang kami dapat dari Google Maps, jika ada tambahan 4 km, karena harus memutar karena adanya Car Free Day, Kami sempatkan mengambil beberapa foto di simpang Ampar ini, sebagai kenang-kenangan, 15menit kemudian kami melanjutkan perjalanan, dari simpang Ampar  kami tidak langsung belok ke Kiri, tetapi kami  belok ke Kanan, kami akan melihat jembatan terpanjang di Kalimantan, Jembatan Pak Kasih Tayan yang belum lama diresemikan oleh Presiden Jokowi  22 Maret 2016, sekitar setahun lalu.

Jarak ke jembatan Pak Kasih Tayan sekitar 10km dari Simpang Ampar, di tempuh dalam waktu ±15 menit,  kami menyusuri jembatan ini sampai diujung proyek, dan kemudian berbalik arah kembali ke Jembatan dan kami  berhenti  untuk berfoto-foto,  saya tidak menghabiskan waktu lama di jembatan ini, karena harus melanjutkan perjalanan ke Entikong, yang masih sekitar 150km lagi dari Simpang Ampar.

Kami sampai kembali di Simpang Ampar jam  10:30, dan trip meter menunjukkan angka 131.7 km, Sekitar 25km PP dari simpang ampar, termasuk  berhenti di pulau Tayan, sebuah pulau kecil di tengah sungai Kapuas. Dari tugu Simpang Ampar, menuju arah Sosok,  sudah terlihat jalan yang tidak beraspal, permukaanjalan kerikil padat, permukaan jalan berupa sirtu, atau lebih tepat nya adalah jalan rusak, kami sudah siap mental , sesuai dengan informasi yang  dapat sebelumnya. Setelah melewati  100 meter jalan rusak tersebut,  kami sedikit surprise karena kami mendapatkan jalan aspal mulus kembali.

Ah….. kami menghela nafas, Cuma 100 meter, entenglah, semoga tidak seburuk apa yang kami bayangkan sebelumnya. Sekitar 1 km dari Simpang Ampar,  ada SPBU pertamina, kami meilhat Jarum Bensin, yang cukup membuat kami terkejut, jarum bensin ada pada posisi kurang sedikit dari setengah, menunjukkan skala 45 dari 100, kami cukup kaget, wah ini bisa bisa nggak sampe Entikong nih,  langsung kami putuskan untuk isi bensin full di Tayan,  di SPBU itu tersedia Premium, kami isi dengan bensin jenis premium Innova rental sampai full sampai di bibir inlet tangki bensin, dan masuk sebanyak 21.15 Liter @ Rp 6450,- = Rp 136.417,- kami bayarkan Rp 136.500,-

Perjalanan kami lanjutkan, jalan yang kami lalui bagus, namun baru 500meter, kami nenemui jalan berkerikil lagi, ternyata tidak panjang, hanya sekitar 500 meter dan jalan kembali mulus, 4 km kemudian  kami menemui jalan kerikil lagi, tapi ini hanya sepanjang kira kira 100 meter danjalan lanjut mulus lagi, 3km kemudian ada lagi jalan yang berkerikil lagi, sepanjang kurang dari 100 meter, demikian juga  4 km kemudian, ada sepotong jalan yang belum diaspal 100 meter, sekitar 10 km dari simpang tayan, kami mendapatkan sepotong jalan sepanjang 1,5 km sedang dalam proses pengasapalan, permukaan jalan masih berupa perkerasan, jalan tidak berlubang, karena menurut kami tinggal proses pengaspalan, demikian seterus nya tidak terasa sekitar 11:30 kami sampai di simpang sosok,  ah, ternyata kondisi jalan tidak sejelek seperti yang kami duga, jalan di pantura pulau jawa rasanya jauh lebih jelek dari jalan Simpang Ampar ke Simpang Sosok,  kami melewati kota Sosok yang cukup lengang, pada jam 11:40 sampailah kami di Simpang Tanjung, jika terus, kearah Sintang, belok kiri menuju Entikong, Trip meter menunjukkan angka 178,7 km, Entikong kira kira 90 km dari pertigaan ini,  dari Simpang Tanjung, ke arah Entikong, kondisi jalan sangat baik , pada jam 13:00 kami sudah mencapai Entikong, sebelum memasuki PLBN entikong, kami berhenti sebentar untuk mendownload rekaman dashcam untuk berjaga jaga rekaman ter overwrite, download memerlukan waktu sekitar 30menit, dan jam 13:30 kami melanjutkanke PLBN entikong yang kira kira berjalan 1km dari tempat kami berhenti. Sampai di PBLN Entikong trip meter menunjukkan angka 270.8 Km, ada perbedaan sedikit menurut google maps yang sekitar 275 km.

Sampai Entikong, kami sempat ber foto-foto sebelum untuk pengurusan dokumen imigrasi dan kendaraan untuk menyeberang ke Negeri  Jiran. Kesan kami, PLBN ini memang megah, gagah, dan bagus, PLBN Entikong ini di resmikan Presiden Joko Widodo pada 21 desember 2016, jadi baru sekitar 3 bulan umurnya, Sayang kondisi toilet sangat bau, tidak terawat, sungguh sayang  jika bangunan megah tersebut nanti nya hanya seumur jagung, dan kemudian menjadi kumuh.

Karena ini pengalaman pertama membawa mobil ke Malaysia, kami pertama-tama melakukan proses administrasi ijin lintas batas untuk mobil yang kami rental, Langkah pertama adalah ke loket, atau lebih tepat nya ke ruangan bea Cukai, untuk mengisi  Borang ( formulir) permohonan pembebasan bea masuk mobil yang kita bawa ke Malaysia, pembebasan bea Import sementara, Borang ini berbahasa Malaysia dan Inggris, dan gratis ( percuma). Untuk mendapatkan boring ini, Kami diminta untuk menunjukkan Paspor, Sim, dan STNK + Pajak Mobil  asli. Setelah diisi, kami di persilahkan untuk melakukan verifikasi ke Polisi, Sekali lagi, Sim, Paspor, STNK+Surat Pajak di minta, setelah pemeriksaan, dokumen, Borang mendapat Cap dan tanda tangan dari Kepolisian, Selanjut nya pengurusan dokumen berlanjut ke ruang Dinas LLAJR untuk mendapatkan  pengesahan  dan ijin meinggalkan indonesia untuk bertolak ke Malaysia, Waktu kami ke ruang DLLAJR, ternyata petugas nya tidak berada di tempat, sudah ada beberapa orang menunggu, sekitar 10menit kemudian datanglah seorang petugas DLLAJR, namun ternyata kunci nya di bawa oleh rekannya, sehingga kami harus menunggu rekannya yang membawa kunci tersebut, sekitar 5 menit kemudian  barulah orang yang membawa kunci tersebut datang, tidak jelas dari mana Petugas tersebut pergi, namun, sayang rasanya jika mental petugas masih seperti  itu, semangat melayani yang di suarakan oleh Presiden belum sepenuhnya didalami dan dihayati oleh para petugas di lapangan.

Singkat cerita, setelah antri sekitar 3 atau 4 orang, tibalah giliran kami, sekali lagi SIM, PASPOR, STNK + pajak di periksa, kemudian Borang di Cap dan di  tanda tangani oleh petugas DLLAJR dan kendaraan kami mendapat Stiker yang harus di tempel di kaca depan kiri atas, sebagai tanda ijin keluar Negara Indonesia. Stiker ini nanti jika kembali masuk Indonesia harus di kembalikan ke DLLAJR lagi. Dari ruang Kantor DLLAJR, kami harus kembali ke ruang bea cukai,  untuk pengesahan dari Bea Cukai, sekali lagi SIM, PASPOR , STNK dan Pajak kendaraan diperiksa, dan kemudian Form tersebut di cap dan di tanda tangani.  Formulir tersebut nantinya dibawa ke Pihak Malaysia untuk di lakukan verifikasi ulang seperti pada waktu di Indonesia.

Setelah urusan ijin keluar mobil selesai, maka kami dan istri menuju counter imigrasi. Nah di counter imigrasi ini ada dua loket, seperti pemeriksaan imigrasi umumnya, ada kejutan saat  di counter imigrasi ini, salah satu petugas nya dengan santai MEROKOK, kami sampai takjub dan tercengang melihatnya, padahal jelas-jelas disitu tertulis bawa dilarang merokok di ruangan ber AC, sangat jelas sekali bahwa mental petugas masih sangat jauh dari harapan sungguh suatu kelakuan yang tidak terpuji. Untunglah, masih untung, hanya satu manusia itu saja yang merokok di pos PLBN Entikong yang sangat sejuk itu. Sungguh kami masih tidak habis pikir dengan apa yang ada di dalam benak petugas Imigrasi dengan kelakuannya merokok tersebut. Luar biasa…

Setelah urusan administrasi di sisi Indonesia selesai, kami kembali ke mobil, Jam menunjukkanjam 14:23 WIB, sekitar 1 jam kami di Entikong untuk urusan administrasi dan  kami pun menyeberang ke MALAYSIA, kami jalan perlahan lahan, keluar dari Gerbang Indonesia, melintas di no-man land sepanjang mungkin 10-15 meter sebelum memasuki pintu gerbang sisi Malaysia. Ya kami akhir nya memasuki Malaysia. Tebedu.

Mobil diparkir, kami menuju pos imigrasi, dan oh… no…antrian Imigrasi cukup panjang, dan out door, cuaca sungguh panas, Tebedu ini terlihat kusam dan jelek, jika dibandingkan dengan PLBN Entikong,  kami antri kepanasan, kecepatan petugas imigrasi sangat lambat, untuk antrian selama 12 orang, kami memerlukan waktu 1 jam, ya 1 jam kami kepanasan, setelah paspor kami di cap oleh imigrasi Malaysia, kami masih harus mengurus ijin masuk mobil kami ke Malaysia, masih ada proses administrasi yang harus kami lalui.

Mobil pun kami bawa melintas pos imigrasi dan kami parkir dekat loket untuk proses administrasi kendaraan. Kami melihat ada orang antri di sebuah ruangan, ternyata itu adalah ruangan JPJ, Jabatan Pengangkutan Jalan  Malaysia ( DLLAJR nya Malaysia). Antrian tidak banyak, ada sekitar 6 atau 7 orang antri sebelum tiba giliran kami. Kami bercakap-cakap sambil menanti giliran, kami cerita ini adalah kali pertama melintas, kemudian salah seorang Bapak menanyakan kepada Kami, apakah sudah urus  Asuransi? Kami jawab belum, harus urus asuransi dulu sebelum ke JPJ, maka istri kami menggantikan antrian kami, dan kami pun ke Kantor Asuransi.

Lokasi Kantor asuransi ini terpisah,  Kita harus jalan keluar sampai gerbang keluar tebedu, kemudian, belok kanan  ada bangunan di atas. Lokasi kantor sepi, formulir di ada di atas meja dan … alamak, itu formulir asuransi ber lembar lembar, Kemudian ada seseorang menawarkan untuk mengisi form tersebut, kami menolak, karena kami ingin tahu seperti apa, mungkin kalau kami menyeberang kembali kami akan memanfaatkan jasa orang tersebut, kami melihat sesorang memberikan tips 1 atau 2 ringgit kepada orang tersebut. Mengisi form tersebut terasa sangat lama, belum lagi cuaca yang sangat panas, kami berkeringat cukup banyak, setelah form selesai diisi, kami masuk ke dalam ruangan kantor Asuransi, Kami diminta fotocopy SIM, PASPOR, STNK, alamak ya nggak punya,  kemudian patugas berkata bayar RM1, dia punya mesin print dan copy printer dan oke lah… RM1.

Asuransi ini adalah asuransi untuk pihak ke tiga, jadi untuk korban yang di tabrak oleh mobil, sedangkan untuk mobil sendiri, tidak lah di asuransi, miminal jangka waktu adalah 1 minggu, dan  charge asuransi total yang kami bayarkan adalah sebesar RM73 sudah termasuk pajak. Atau sekitar Rp 221 ribu dengan kurs Rp3025-Rp3030 pada saat itu.

Setelah meninggalkan kantor Asuransi, setelah kami teliti, rupanya besaran nilai asuransi adalah sebesar RM 63, ternyata ada kutipan tidak resmi sebesar RM10 yang tidak kami ketahui. Ada pungli sebesar Rp 30rb rupiah.

Setelah urusan asuransi selesai, maka kembalilah kami ke kantor JPJ, antrian masih sekitar 4 orang, salah seorang pengantri bertanya kepada kami, mobilnya di mana, kami tunjuk ada di sebelah sana, oleh Bapak tersebut di sarankan untuk dipindah dekat kantor JPJ agar mudah terlihat oleh petugas JPJ, alhasil kami pindah mobil di sebelah kantor JPJ,  antrian berjalan lambat sekali, setelah berpanas panas antri, akhir nya tibalah giliran kami dan  masuklah kami ke ruangan JPJ.

Kami serahkan semua BORANG yang sudah di cap di sisi Indonesia kepada petugas JPJ, dan tidak lupa kami serahkan form hasil pemeriksaan kendaraan mobil yang kami sewa yang disertakan. Surat hasil pemeriksaan tersbut sebelumnya kami baca, dan mobil masuk Malaysia pada 4 Feb 2017, sekitar 1,5bulan lalu. Petugas pun menanyakan, mana kereta nya, kami tunjuk itu, yang  KB 1315 SQ dari jendela kantor JPJ, Kemudian dia bertanya lagi, apakah kereta pernah masuk Malaysia sebelumnya, kami jawab Ya , pernah, Kapan? Si petugas bertanya lagi, kami jawab Februari 2017, bulan lalu, dia kemudian memeriksa data di computer, dan berkata , ok, Petugas lain, kemudian membuat isi Form pemeriksaan kendaraan,  Petugas lainnya, memeriksa dokumen kami, SIM PASPOR STNK PAJAK dan Surat Kuasa, Surat kuasa hanya dibaca sepintas, mungkin tidak di baca, tetapi itu tetap menjadi syarat, jika kendaraan yang akan dibawa ke Malaysia bukan atas nama sendiri.

Pemeriksaan berkas selesai, JPJ mencap Borang kami, dan dia mengeluarkan stiker, Bahwa kendaraan boleh masuk ke Malaysia dan harus di tempel di kaca depan kiri atas, bersebelahan dengan stiker yang di keluarkan oleh DLLAJR, dua stiker ini nanti harus di serahkan kembali jika kendaraan kembali ke Indonesia.

Langkah selanjutnya, ini langkah terakhir proses administrasi  Kendaraan masuk Malaysia, pindah ke Loket Custom, bea Cukai Malaysia, lagi lagi, Paspor, SIM STNK dan Pajak, di periksa, + asuransi dan Borang kami kemudian di cap dan di Tanda Tangani oleh petugas Custom,  dan akhirnya SAH!! Kendaraan boleh masuk Malaysia, ada catatan bahwa tanggal 1 April  2017 kendaraan harus  sudah masuk ke Indonesia lagi. Kendaraan kami mendapat visa 1 minggu masuk Malaysia,  Maximum hari yang diijinkan adalah 30 hari.

Kamipun kembali ke mobil dan jam sudah menunjukan pukul 16:11 WIB saat kami mulai jalan melinggalkan border Tebedu, Trip Meter di angka 270.8, 400 meter jarak dari kami parkir di Entikong sampai kami parkir di Tebedu.

Perjalanan lintas Kalimantan sisi Malaysia pun di mulai, kondisi jalan sangat bagus, sisi Indonesia menurut kami tidaklah kalah, akhir tahun 2017 kami yakin jalan dari Simpang Sosok sampai Simpang Ampar akan mulus 100%.

Kami berencana ntuk mengisi bensin di Tebedu, sekitar 3 km dari pos Perbatasan, tetapi karena kami sudah isi di dekat Simpang Ampar, dan jarak ke Kuching tinggal sekitar 100km lagi dan indicator jarum bensin masih menunjukkan setengah lebih,  kami putuskan untuk isi bensin di Kuching saja.

Dari Tebedu ke Serian, jalan sangat sepi, di kiri kanan jalan tidak ada perumahan, sehingga ada rasa aman dalam berkendara, aman dari orang atau sepeda motor yang menyebrang jalan,  di  sisi Kalimantan Indonesia, di tepi jalan sangat banyak bangunan dan rumah, sehingga dalam berkendara harus jauh lebih waspada.

Pukul 16:45 waktu WIB atau 17:45 waktu Malaysia, kami tiba di bundaran kota Serian,  dari kota Serian ini sampai Kuching jalanan sangat lebar, terdiri dari 4 lajur, masing masing arah terdiri dari 2 lajur, lalu lintas sangat tertib, kami tidak melihat mobil berjalan pelan-pelan di lajur kanan ala ala orang Indonesia, Memasuki bundaran pun kami harus berhenti, memastikan untuk memberi jalan kepada kendaraan yang ada di dalam bundaran , prioritas kepada mereka, sungguh nikmat mengemudi di Negeri Jiran ini,

Ini adalah pengalaman kali kedua Kami mengemudi di negeri jiran, setelah sebelumnya di Langkawi di tahun 2016 lalu.

Jalan menuju kota Kuching sangat lancar, untuk menuju hotel, kami  menggunakan jasa google maps, kami hanya mengikuti petunjuk. Sekitar 10 menit sebelum kami mencapai hotel, Handphone kami mengeluarkan alarm, low batt, alamak, kami berfikir, apakah Handphone bisa bertahan atau tidak sampai Hotel, kami sedikit khawatir. Karena tidak ada macet, dan ada indikasi jam kami sampai tujuan, maka kami yakin , bawha HP kami tidak akan mati sebelum kami mencapai Hotel.

Jam 17:53 wib akhirnya kami mencapai Hotel, Hotel Grand Continental Kuching di Jalan Ban Hock, atau jam 18:53 waktu Malaysia, kami tiba ebih lambat satu jam dari schedule yang telah kami susun sebelumnya, Tiba di Kuching Satu jam lebih lambat dari schedule, karena proses Imigrasi / Administrasi  di Tebedu yang sangat lambat. Secara overall, perjalanan sesuai dengan rencana, Check in Kami di Hotel Grand Continental Kuching berjalan dengan lancar, Bapak Petugas doorman sangat informatif, dia memberi informasi yang sangat banyak tentang keadaan sekitar, besoknya dia juga menjelaskan tentang objek wisata di Kuching dan dia membagi kan brosur destinasi wisata kepada Kami secara gratis.

Singkat cerita, setelah kami mandi, yang kami cari adalah Makan! Ya kami  tidak makan siang di perjalanan tadi, kami makan siang dengan bekal roti yang kami beli semalam sebelumnya di  A yani Mall Pontianak.

Sesuai rencana, tujuan kami adalah Top Spot food court, yang menurut google maps hanya berjarak 900meter dari lokasi hotel kami, Kami ke Food court menggunakan Mobil, jalan 900 meter sudah membuat kami malas karena telah menempuh perjalanan dari Pontianak Sejak pagi, Setelah tikungan pertama, mendadak HP kami bersuara  GPS signal lost,  alamak, ini bencana… Benar saja, kami tersesat, karena kami belok kiri sebelum jalan seharus nya, lantaran lost signal tadi,  tidak lama kemudian Sinyal GPS sudah tersambung kembali, namun kami harus memutar, dan malam itu kami sempat memutari lapangan merdeka, Ternyata lost kami tidak lama, hanya delay sekitar 5 menit saja, Yah Kuching bukan kota yang besar dan komplex,  tidak lama, kami sampai di lokasi gedung tempat top spot food court berada, Kami pesan makanan seafood dan masakannya sangat lezat, mungkin karena kami sudah cukup lapar, dan kami surprise waktu membayar,  jumlah tagihan RM 44 untuk semua yang kami pesan,  kami lihat lagi, ya benar Rm 44 atau setara dengan Rp 133.320,- saja, yang mana dalam perkiraan kami jika di Jakarta, kami makan di Indah Keramik seafood Gunung Sahari,  paling tidak sebesar Rp 300rb lebih.

 

Parkir di gedung ini ternyata semua nya manless, tiket parkir kita ambil di dispenser, dan waktu bayar, ada mesin pembayaran, kami tidak pernah punya pengalaman seperti ini, sehingga, kami perlu melihat bagaimana cara orang orang membayar parkir. Ternyata tidak sulit, Tiket yang kami ambil pada waktu masuk, kita masukkan ke dalam mesin tersebut, kemudian masin akan menginformasikan Tarif parkir yang harus kami bayar, biaya Parkir Flat RM2, kami masukkan uang kertas RM1  sebanyak 2x dan  kemudian akan keluar tiket lagi, yang nanti harus kita masukkan di dispenser tiket pada saat keluar gate. Tiket tersebut di Gate akan di telan, seperti mesin Atm membaca kartu ATM, dan kemudian gate keluar terbuka, simple sekali dan sangat efisien, Parkir pun murah jika kami bandingkan dengan di Jakarta. Setelah makan di top spot seafood, kami pulang ke hotel untuk istirahat. Perjalanan Hari ini selesai, besok kami akan keliling kota Kuching.

Bersambung….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *